Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

TEORI DASAR KARAWITAN

Dr. Nanang Supriatna., S.Sen, M.Pd

  1. PERTEMUAN KE 1: Nada Sisipan (Uparengga)

Para mahasiswa peserta perkuliahan Teori Karawitan, selamat bertemu kembali dengan saya di semester II. Saya berharap anda semua telah memahami semua materi Teori Dasar Karawitan yang telah disampaikan pada semester pertama. Selanjutnya pada semester ke II ini saya ingin menyampaikan tentang Teori Karawitan yang merupakan kelanjutan dari mata kuliah Teori Dasar Karawitan sebelumnya.

Pada semester satu kita telah mempelajari beberapa laras yang banyak digunakan dalam karawitan, khususnya Sunda, seperti laras salendro, degung, dan madenda. Dalam kesempatan kali ini saya ingin mengajak anda semua untuk mengingat kembali laras degung yang pada semester 1 telah dipelajari. Dalam hal ini bahwa pada setiap laras termasuk degung, terdapat deretan nada-nada yang biasa disebut dengan nda pokok dengan interval tertentu. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut di bawah ini.

  1. 1. Perhatikan dan dengarkan susunan nada yang terdapat pada laras degung tersebut. Selanjutnya bedakan nada-nada yang memiliki interval 80 cent, 240cent, dan 400 cent.
  2. 2. Agar anda memiliki pengalaman dan penguasaan terhadap laras degung, cobalah nyanyikan setiap nada tersebut secara berulang-ulang.

 

Selain nada-nada pokok seperti yang telah disampaikan tersebut di atas, ada pula yang disebut dengan nada sisipan yang di dalam karawitan disebut dengan istilah uparengga. Uparengga (nada sisipan) dalam karawitan Sunda ditandai dengan menggunakan tanda – (minus) dan + (plus). Tanda – (minus) dituliskan untuk nada yang dinaikan setengah, sedangkan tanda + (plus) untuk nada yang diturunkan setengah. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut.

1. Perhatikan dan dengarkan susunan nada khususnya yang dibelakangnya menggunakan tanda – (minus) dan + (plus).

2. Agar anda memiliki pengalaman dan penguasaan terhadap laras degung, cobalah nyanyikan setiap nada tersebut secara berulang-ulang.

Tugas:

Bacalah Notasi Lagu Laras Degung berikut di bawah ini

  1. PERTEMUAN KE 2: Nada Sisipan (Uparengga) Laras Madenda
  2.  

Hallo…….selamat bertemu di pertemuan ke 2 mata kuliah Teori Karawitan yang saya ampu. Semoga pada kesempatan kuliah kali ini anda dalam keadaan sehat walafiat, sehingga dapat menyimak semua materi yang akan saya sampaikan.

Apakah anda masih ingat dengan laras degung yang telah saya sampaikan pada pertemuan pertama? Saya harap anda tidak hanya memahami secara teoretis tentang laras degung, tetapi juga menguasai dan membaca laras tersebut dengan baik.

Berkali-kali saya sampaikan bahwa selain laras degung, salah satu laras yang banyak digunakan di dalam karawitan Sunda, adalah yang biasa disebut dengan Madenda. Istilah lain yang digunakan oleh para seniman karawitan Sunda untuk menyebut laras Madenda, adalah dengan kata “nyorog” atau “sorog”.  Namun demikian kata “nyorog” atau “sorog” yang biasa digunakan untuk menyebut laras madenda ini, berbeda dengan surupan sorog pada laras pelog.

Jika dibandingkan antara laras degung dengan laras madenda, maka sebagian besar nadanya memiliki interval (swarantara) yang sama, namun hanya ada satu nada yang berbeda. untuk lebih jelasnya marilah kita lihat perbedaan kedua laras tersebut. Jika kedua laras (degung dan madenda) memiliki surupan yang sama (1 =Tuga), maka hanya ada satu nada yang interval (swarantaranya) berbeda, yaitu nada 4 (ti). Interval nada 4 (ti) dengan 3 pada laras degung 240 cent, sedangkan pada laras madenda 80 cent. Perhatikan gambar berikut di bawah ini.

Agar dapat terlihat perbedaannya, marilah kita baca kedua laras tersebut.

Lalu bagaimanakah kedudukan nada sisipan (uparengga) pada laras madenda tersebut? Perhatikan gambar laras madenda dengan nada sisipan (uparengga) berikut.

Sekian bahasan tentang nada sisipan (uparengga) yang terdapat pada laras madenda. Untuk memahami dengan baik materi yang telah saya sampaikan tersebut, baiknya and abaca secara berulang-ulang laras madenda dan nada sisipannya. Setelah benar-benar menguasai hal itu, anda wajib merekamnya lalu kirimkan kepada saya melalui whatsap

  1. PERTEMUAN KE 3: Laras Pelog
  2.  

Para mahasiswa peserta kuliah Teori Karawitan yang saya banggakan, semoga pada kesempatan kali ini anda semua berada dalam keadaan sehat, sehingga dapat menyimak materi yang disampaikan dalam perkuliahan ini.

Pada pertemuan kali ini saya ingin mengajak anda semua untuk membahas laras karawitan yang berbeda dengan yang telah disampaikan sebelumnya. Jika dalam beberapa kali perkuliahan saya menyampaikan tentang laras salendro, degung, dan madenda, maka pada pertemuan kali ini saya akan membahas tentang laras pelog.

Di dalam masyarakat Jawa Barat, laras pelog tidak popular seperti laras salendro, degung, dan madenda. Salah satu alasannya karena laras pelog hanya terdapat pada perangkat gamelan yang berasal dari Jawa. Selain itu, bagi masyarakat Jawa Barat khususnya Sunda memiliki kesulitan dalam menirukan laras tersebut dengan baik. Orang Sunda mampu menirukan bunyi laras tersebut dengan baik jika diiringi dengan perangkat gamelan yang berlaras pelog tersebut. Ketidak mampuan menirukan laras pelog tersebut dengan baik, karena orang atau penyanyi Sunda secara alamiah memiliki dasar laras degung. Sepintas antara laras degung dengan Pelog memang mirip, namun sebenarnya kedua laras tersebut berbeda. untuk lebih jelasnya perhatikan skema laras berikut.

Perkuliahan laras pelog kali ini saya cukupkan sampai di sini.   

Untuk meningkatkan kemampuan anda dalam bidang laras pelog, saya tugaskan anda untuk mendengarkan berulang-ulang laras tersebut, kemudian tirukan bunyi setiap nada yang terdapat di dalam laras tersebut.

  1. PERTEMUAN KE 4: Surupan Jawar, Sorog, dan Liwung Pada Laras Pelog
  2.  

Assalamualaikum, semoga pada kesempatan kali ini anda semua berada dalam keadaan sehat, dan selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa dari berbagai bencana, terutama Covid-19. Aamiiin….

Pertemuan ke 4 ini saya ingin mengajak anda semua untuk mempelajari surupan yang terdapat di dalam laras pelog yang telah dipaparkan pada perkuliahan ke 3 sebelumnya. Kata surupan di dalam karawitan Sunda berasal dari kata “surup” aatu “nyurup” yang berarti sama. Istilah ini sama artinya dengan istilah nada dasar pada musik barat. Selain itu istilah surupan dapat diartikan sebagai tinggi rendahnya nada yang telah ditentukan dengan frekwensi tertentu.

Berbicara mengenai surupan pada laras pelog yang memiliki tujuh buah nada, di dalam karawitan Sunda dibagi menjadi tiga surupan, yaitu surupan Jawar, Sorog, dan Liwung. Untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu persatu surupan yang terdapat pada laras pelog tersebut.

a. Surupan Jawar

surupan Jawar pada laras pelog memiliki lima nada, yaitu nada barang, loloran, panelu, galimer, dan singgul. Surupan Jawar dikenal dengan 1 (da)= barang, artinya bahwa dari tujuh nada yang terdapat pada laras pelog, terdapat dua nada yang tidak termasuk dalam surupan Jawar, yaitu nada bungur dan sorog. Perhatikan skema berikut.

b. Surupan Sorog

Surupan Sorog tentu berbeda dengan Jawar. Jika surupan Jawar nada dasar 1(da)=barang, maka surupan Sorog  memiliki nada dasar 1 (da)=Panelu. Di dalam karawitan Sunda surupan sorog memiliki lima nada pokok yang terdiri dari galimer, panelu, loloran, barang, dan sorong. Jika dalam surupan Jawar nada bungur dan sorog tidak digunakan, maka pada surupan sorog yang tidak digunakan adalah nada bungur dan singgul. Perhatikan skema berikut.

c. Surupan Liwung

Surupan lainnya yang terdapat pada laras Pelog adalah Liwung. Liwung memiliki nada dasar 1 (da)=galimer. Terdapat lima nada pada surupan Liwung, yaitu singgul, galimer, bungur, loloran, dan barang. Ada dua nada yang tidak digunakan dalam surupan Liwung, yaitu panelu dan sorog. Perhatikan skema berikut.

  1. PERTEMUAN KE 5: Waditra Dalam Karawitan

Kata waditra merupakan kata yang tidak familier di telinga sebagian orang di Jawa Barat. Namun bagi para seniman musik tradisional di Jawa Barat, kata waditra bukan merupakan hal yang asing, karena kata tersebut sangat berkaitan dengan profesi yang digelutinya. Dalam bahasa Sunda, kata waditra memiliki arti sama dengan alat tatabeuhan, begitu pula halnya dalam khasanah musik tradisional Sunda atau yang biasa dikenal dengan istilah karawitan, kata waditra memiliki pengertian yang sama, yaitu alat musik yang biasa digunakan di dalam berbagai jenis musik tradisional Sunda. Sedangkan di dalam musik barat istilah yang digunakan untuk menyebut alat musik adalah kata instrumen.

Dalam khasanah karawitan, kata waditra tidak dapat dipisahkan dari kesenian tradisional yang ada. Dikatakan demikian, karena kehadiran kesenian di tengah masyarakat dapat dipastikan memiliki sejumlah instrument (waditra) yang digunakan di dalam setiap pertunjukannya. Oleh karena itu semakin banyak jumlah kesenian yang berkembang di suatu daerah, semakin banyak pula waditra yang digunakannya.

Istilah waditra mulai dikenal sekitar abad ke 12. Pada abad itu dikenal juga istilah tatabuhan atau tabeh-tabehan yang kemungkinan besar merupakan perpaduan dari beberapa alat music, dan biasanya dihubungkan dengan peristiwa perang. (lihat Sumardjo, 2001, hlm. 147). Artinya bahwa pada saat itu waditra-waditra yang berkembang di masyarakat tidak hanya digunakan sebagai alat music, tetapi juga untuk kepentingan lain, seperti untuk memberikan semangat bagi prajurit yang akan maju perang dan juga sebagai media komunikasi (pemberitahuan tentang waktu, peristiwa tertentu, dan sebagainya) bagi masyarakat.

Dari berbagai waditra yang berkembang di masyarakat, berdasarkan jenisnya dapat dibedakan kedalam empat kelompok, yaitu waditra yang tergolong pada kelompok membranophone, idiophone, chordophone, dan aerophone. Masing-masing kelompok waditra tersebut dapat dibedakan sebagai berikut.

 

a. Waditra Membranophone

Waditra yang termasuk kepada kelompok membranophone, adalah waditra-waditra yang memiliki membran sebagai sumber bunyi. Jenis waditra membranophone yang terdapat di masyarakat relative banyak, antara lain kendang, kulanter, rebana, dog-dog, terebang, dan bedug. Di antara waditra-waditra yang telah disebutkan tersebut, waditra yang paling popular adalah kendang. Hal itu dapat dimengerti, selain karena waditra kendang banyak digunakan dalam pertunjukan berbagai jenis kesenian tradisional, bunyinya sangat menarik, dan termasuk salah satu waditra kuno khususnya dalam budaya Jawa.

Dibandingkan dengan waditra lainnya, kendang merupakan waditra yang paling banyak disebut dalam berbagai prasasti, paling banyak digambarkan dalam berbagai relief candi, dan paling banyak disebut dalam berbagai kitab sastra. Tidak hanya itu, nama yang digunakan untuk menyebut waditra itu pun berubah-ubah, seperti padahi, muraba, pataha, panawa, murawa, muraja, dan mrdangga. Istilah padahi dijumpai sejak zaman Mataram sampai Majapahit. Kata mrd (sansekerta) yang memiliki arti lumpur, oleh Jaap Kunst diartikan sebagai kendang dengan bentuk pot dari tanah liat yang dikenal dengan nama Kumbha atau Ghata di India. (Sumardjo, 2001, hlm 136-137).

Selain kendang, waditra lain yang sejak abad ke 12 sudah ditulis dalam beberapa kitab sastra zaman Kediri, dikenal dengan nama waditra tabang-tabang. Waditra tabang-tabang ini oleh H.H Juyboll dan P. J. Zoetmulder ditafsirkan sama dengan waditra terbang pada zaman sekarang. Di daerah Sunda waditra terbang ini banyak tersebar di beberapa daerah. Waditra ini biasa digunakan di dalam pertunjukan kesenian terebang, gembyung, bangpet, bangklung, rudat, dan banyak lagi yang lainnya.

 

  1. PERTEMUAN KE 6: Pembagian Kelompok Waditra

 

b. Waditra Idiophone

Waditra-waditra yang tergolong kepada jenis idiophone yang biasa digunakan di dalam pertunjukukan kesenian di Jawa Barat cukup banyak. Bentuknya pun berbeda-beda dari mulai yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar. Jika dilihat dari bahan yang digunakan untuk pembuatannya, maka waditra yang tergolong kepada jenis idiophone ini dapat dibedakan kedalam dua jenis, yaitu waditra yang terbuat dari metal (perunggu, besi, dan kuningan), dan dari kayu. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjelasan berikut di bawah ini.

  1. 1. Waditra Gong

Waditra gong yang di daerah Sunda biasadisebut dengan waditra goong, adalah salah satu waditra yang memiliki fungsi sebagai akhiran lagu pada pertunjukan

kesenian tradisional Sunda. Waditra ini sangat popular di Sunda, selain karena banyak digunakan dalam berbagai pertunjukan kesenian tradisional Sunda, juga karena bentuknya yang paling besar dibandingkan dengan waditra lainnya. Waditra gong ini tidak hanya terdapat di Sunda (Jawa Barat), tetapi juga daerah lainnya terutama di daerah Jawa, bahkan juga terdapat di beberapa Negara Asia dan Timur Tengah.

Berdasarkan temuan para ahli, dikatakan bahwa waditra gong sudah dikenal dalam berita dinasti T’ang sejak abad ke 9, namun pada saat itu gong bukan digunakan sebagai waditra dalam pertunjukan music, tetapi sebagai alat untuk menandai kedatangan raja, bahkan dalam beberapa gambar relief candi Panataran dan Sukuh pada masa akhir Kerajaan Majapahit, gong digunakan sebagai alat yang dibunyikan untuk kepentingan perang. Jika dilihat dari bentuknya, waditra gong yang berkembang sampai saat ini dapat dibedakan kedalam beberapa bentuk, yaitu gong besar, kempul, dan bheri. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut di bawah ini.

 

  1. 2. Waditra Bonang, Rincik, Kenong, dan sejenisnya.

Waditra lainnya yang termasuk kepada jenis idiophone, adalah bonang, rincik, kenong, dan sebagainya. Jika dibandingkan dengan waditra gong tersebut di atas, waditra bonang dan gong merupakan waditra sejenis, yaitu sama-sama memiliki bagian yang menonjol pada bagian tengah waditranya. Oleh karena itu, bonang, gong, dan waditra sejenis lainnya biasa disebut dengan waditra berpenclon. Hal yang membedakan keduanya (bonang dan gong), antara lain terletak pada ukuran besar-kecilnya waditra. Dengan ukuran yang berbeda, tentu saja menghasilkan bunyi yang berbeda pula. Sebutan bonang, rincik, dan kenong biasa digunakan di daerah Jawa Barat (khususnya Sunda), Jawa Tengah, dan Jawa Timur, sedangkan di daerah Bali waditra tersebut biasa disebut dengan terompong dan reong.

  1. 1. Gambang, saron, demung, dan sejenisnya.

Selain waditra berpenclon yang telah dijelaskan tersebut di atas, waditra lain yang termasuk kepada jenis idiophone adalah waditra-waditra berbilah, seperti gambang, saron, demung, peking, dan sebagainya. Waditra-waditra berbilah/wilahan ini dikenal sejak zaman Borobudur, yaitu pada abad ke 9. Nama gambang itu sendiri baru muncul pada zaman Majapahit.

  1. c. Waditra Chordophone
  2.  

Dalam bidang waditra, daerah Jawa Barat khususnya Sunda terdapat berbagai jenis, termasuk waditra-waditra yang tergolong kepada jenis chordophone. Waditra-waditra ini biasa digunakan dalam beberapa pertunjukan kesenian tradisional, seperti waditra kacapi, celempung, jentreng, rebab, tarawangsa, dan sebagainya. Diantara beberaapa waditra kelompok chordophone yang sampai saat ini masih ada di masyarakat, terdapat salah satu waditra yang sangat popular bagi masyarakat Sunda, waditra tersebut dikenal dengan nama kacapi. Kacapi atau kecapi, adalah salah satu waditra berdawai yang terdapat dalam beberapa kesenian tradisional.

Menurut keterangan para ahli, kacapi atau kecapi sudah dikenal dalam relief acandi Borobudur dengan berbagai bentuk. Pada abad 10, kacapi dikenal dengan berbagai nama, yaitu wina, lawuwina, wina rawanahasta, maharawina, dan sebagainya. Tarawangsa sendiri baru muncul pada abad ke 15 dalam kitab sastra Cupak. (lihat Sumardjo, 2001, hlm. 159).

  1. d. Waditra Aerophone

 

Kelompok waditra lainnya yang juga banyak terdapat di dalam kesenian tradisional baik di Jawa Barat maupun daerah lainnya, adalah kelompok waditra yang termasuk kepada jenis aerophone. Di daerah Sunda sendiri terdapat berbagai jenis waditra yang termasuk pada kelompok ini, antaralain; suling, terompet, bangsing, elet, empet, galeong (suling Banten), dan banyak lagi yang lainnya.

Dari sekian banyak waditra yang telah dijelaskan tersebut, waditra suling merupakan waditra yang paling popular. hal itu dapat dimengerti, selain karena suling Sunda banyak dimainkan dalam berbagai pertunjukan kesenian Sunda, suling Sunda merupakan waditra yang memiliki suara khas dan sangat digemari oleh masyarakatnya. Waditra suling yang berkembang di Jawa Barat terdiri dari suling pelog yang memiliki enam buah lubang dengan laras degung, madenda, dan salendro; suling lubang empat berlaras degung, madenda, dan salendro.

Tugas: Carilah dari berbagai sumber tentang ragam waditra sesuai dengan klasifikasi yang telah dijelaskan di atas masing-masing 5 jenis waditra.

  1. PERTEMUAN KE 7: Jenis Waditra Dilihat Dari Bahan yang Digunakan untuk pembuatannya

seperti kita ketahui bahwa bentuk dan jenis waditra yang berkembang di Jawa Barat dalahm hal in Sunda sangat banyak. Jika dilihat dari cara memainkannya dapat dikelompokan pada waditan yang dibunyikan dengan cara dipukul, dipetik, ditoel, digesek,  ditiup, dan digoyang. Pengklasifikasian jenis dan bentuk waditra tidak hanya bisa dilakukan berdasarkan teknik atau cara membunyikannya, tetapi juga bisa dilakukan berdasarkan pada bahan yang digunakan untuk pembuatan waditra-waditra yang ada pada karawitan, antara lain:

  1.  
  2. a. terbuat dari bamboo, seperti suling, seruling, saluang, angklung, rengkong, toleot, keprak, kosrek,

 

  1. b. terbuat dari kayu, seperti gambang, kacapi, kendang, rebab, kulanter, jentreng, ngek-ngek,
  2.  
  3. c. terbuat dari kulit, rebab, kendang, terbang, genjring, dog-dog, bedug, rebana,
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
EnglishIndonesian